Idul Adha, Perjalanan Religius Nabi Ibrahim dari Hebron ke Mekkah

 Idul Adha salah satu hari raya umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah – penanggalan berdasarkan hitungan bulan. Tanggal tersebut juga dimaknai hari memotong kurban dan berakhirnya rangkaian ibadah haji. Hari ketika Allah menguji Ibrahim untuk menyembelih Ismail, anaknya. 

Idul Adha merupakan bagian perjalanan spiritual Ibrahim, yang dimulai dari Kanaan, Mesir, Mekkah, dan berujung pada kota Hebron di Tepi Barat, Palestina. Di situlah Nabi Ibrahim menjalani masa tuanya bersama anaknya, Ishak, dan cucunya, Yaqub. 

Berbagai kisah yang turun temurun dari bangsa Yahudi, juga dinarasikan oleh Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, bapak bangsa Yahudi dan Arab itu berasal dari Kanaan – suatu wilayah yang membentang dari Palestina hingga sebagian Suriah dan Lebanon.

Antara Kanaan dan Hebron terbentang jalan setapak sejauh 321 km, yang sering diziarahi orang-orang Yahudi dan umat Islam untuk menapak tilas sejarah Nabi Ibrahim. Di situlah keramahan warga Palestina menyambut para peziarah menjadi semacam ibadah, dan tentu saja menghasilkan uang.

Sementara jalan setapak itu menjadi destinasi wisata religi yang damai dari perang, Kota Hebron turut menjelma destinasi wisata, sekaligus kota suci umat Yahudi.


Hebron

Hebron disebut juga al-Khalil, yang juga jadi julukan Nabi IbrahimnAl Khalil. Hebron terkadang disebut pula dengan nama Hebrew. Kota yang terletak di Tepi Barat ini, merupakan salah satuu kota terbesar di wilayah itu. Lokasinya sekitar 30 km di selatan Yerusalem.

Hebron merupakan kota perdagangan dengan komoditas anggur, buah ara, kapur, tembikar, dan susu. Kota ini juga jadi destinasi wisata religi bagi umat Yahudi.

Di Makfilah terdapat makam Nabi Ibrahim AS dan istrinya, Siti Sarah. Lalu anak dan cucunya Nabi Ishak dan Ya'kub dimakamkan di sini. Juga istri Nabi Ishak yang bernama Ribka, dan istri Nabi Ya'kub, Leah.

Mereka dimakamkam di sebuah gua yang disebut dengan Gua Para Leluhur (Machpelah, Makfilah). Karena itulah, kaum Yahudi menganggap suci kota ini. Di atas gua, dibangun sebuah tempat yang menyerupai masjid dan disebut dengan nama Masjid Ibrahim.

Makam para pria utusan Allah itu ditandai dengan nisan oktagonal (segi delapan) dan makam para istri nabi itu berbentuk segi enam.

Mekkah

Mekkah adalah kota yang dibangun berawal dari rasa cemburu. Pasalnya, puncak kecemburuan Sarah terhadap Hajar – yang memiliki putra Ismail – sudah sangat tidak sehat bagi keluarga Ibrahim. Sarah yang belum memiliki anak, melihat Ibrahim sangat menyayangi Hajar dan Ismail.

Atas perintah Allah, Ibrahim membawa istri keduanya itu ke lembah di bagian lain jazirah Arab, yang bernama Mekkah. Hajar ditinggal berdua dengan putranya itu, saat air bekal mereka habis, paniklah Hajar. Ia mondar mandir antara bukit Sofa dan Marwah. Dalam riwayat Ibni Katsir disebutkan, malaikat datang membantu dengan mencungkil tanah di bawah bukit sehingga memancar air zam-zam.

Ismail beranjak dewasa dan beberapa kali Ibrahim mengunjungi istri dan anaknya. Di Mekkah inilah, Ibrahim dan Ismail merenovasi dan meninggikan bangunan Ka'bah yang telah mengalami kerusakan akibat banjir. Usai membangun baitullah itu, Ibrahim kembali ke Hebron hingga meninggalnya. 

Sesudah Hajar dan Ismail diungsikan ke Mekkah oleh Nabi Ibrahim, Sarah pun hamil. Tentu saja, kehamilan ini merupakan anugerah Allah kepada Siti Sarah dan Nabi Ibrahim. Saat memiliki anak yang dinamai Ishak itu, Ibrahim berusia 120 tahun, sementara Sarah 90 tahun.

Mekkah yang dulunya lembah sunyi, berubah menjadi destinasi wisata religi dunia. Pada musim haji, kota ini menampung lebih dari dua juta manusia dalam satu waktu. Mereka memuliakan nama Allah juga mengenang Nabi Ibrahim, Siti Hajar, Ismail, dan Nabi Muhammad.

https://travel.tempo.co/read/1231642/idul-adha-perjalanan-religius-nabi-ibrahim-dari-hebron-ke-mekkah/full&view=ok