Cara Cerdas Umat Islam Hadapi Sikap Islamophobia di Barat

Penguasaan  media yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang prima menjadi kata kunci dalam membentuk persepsi publik tentang suatu masalah. Hal itu dialami umat Islam di AS dan sejumlah negara Barat lain yang menghadapi apa yang disebut sebagai Islamophobia. 

Stigma buruk tentang Islam yang dibangun pihak barat selama ini tidak terlepas dari konstruksi yang dibangun sejak lama di masyarakat barat. Hal itu diperkuat dengan pemberitaan media  yang banyak merugikan umat Islam, terutama terkait kekerasan atau peperangan yang terjadi di Timur Tengah.  "Kebenaran tidak pernah berubah, tapi cara menyampaikan harus dengan cara yang benar. Menghadapi media perlu kejelian, ini public relations yang baik di AS," kata Dr Imam Shamsi Ali, Lc MA Presiden Nusantara Foundation AS di sela diskusi Webinar Internasional Politik Media dan Peluang Dakwah Melawan Islamophobia di Amerika Serikat yang dihadiri Dekan FISIM UMJ, Dr Ma'mun Murod Al Barbasy M.si dan Dr Aminah Swarnawati M.si Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Rabu malam (11/11). 

Kekuatan yahudi dengan lobinya dan uang bisa menguasai media. Melalui media  mereka bisa merubah keadaan yang hitam menjadi putih dan sebaliknya. Peran media  dan Islamophobia bukanlah barang baru. Sikap ini akan selalu hadir dalam setiap dakwah yang dilakukan umat islam dimanapun berada. Kebencian pada Islam bagian integral dakwah. Jangan berfikir Islamophobia akan selesai, karena sifatnya naik turun. Islamophobia bagian dari gerakan dakwah Islam dimana ada dakwah disitu ada sikap  Islamophobia. Semua perang selalu dikaitkan dengan Islam sebagai agama identik dengan teroris. "Building image yang dilakukan sitematis," kata Imam Shamsi. 

Islam juga kerap dipandang sebagai agama dari timur yang dinilai terbelakang, tidak menghormati wanita, melanggar hak azasi manusia (HAM) dan sederet atribut negatif lainnya. Hal itu berbeda dengan barat yang dianggap lebih maju, menghargai HAM dan wanita. Pihaknya bersama umat Islam di AS membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak termasuk dengan yahudi dan masyarakat AS lainnya. Sikap pemerintahan Presiden Donald Trump yang mengusung white supremacy, membuat orang yahudi khawatir. Pengakuannya terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak lebih hanya diplomasi politik untuk menenangkan masyarakat Yahudi di AS.

Melihat kondisi tersebut peran media  menjadi suatu yang strategis dalam membangun persepsi publik. Media adalah kekuatan politik, sehingga mereka yang berkepentingan akan memanfaatkan media. "Umat Islam perlu  manfaatkan  media untuk kepentingan dakwah Islam," kata Dr fal. Harmonis Msi, Dosen Politik Media Magister Ilmu Komunikasi  FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). 

Dengan memiliki media, ada kekuatan untuk melawan Islamophobia. Apablia tidak memiliki media, bisa dilakukan dengan membangun relasi dengan media dan kalangan politik. Media dan sistem poltik ada keterkaitan satu dengan lainnya sehingga bagi Islam perlu untuk menguasai media. "Kita harus bersahabat dengan media sehingga gagasan yang dibangun tentang Islam tidak akan merugikan umat Islam itu sendiri. Adanya pemikiran Islamophobia bisa diatasi atau diluruskan," kata Harmonis. 

Ma'mun Murod  menilai pandangan negatif masyarakat AS tentang Islam tidak terlepas dari konstruksi yang dibangun media  AS yang buruk tentang Islam. Salah satunya terlihat dari peristiwa penyerangan gedung World Trade Center di New York 2001.  Menurutnya, media menjadi pilar keempat di negara demokrasi sebelum civil society di posisi kelima.

Media memiliki fungsi untuk menyampaikan informasi mengedukasi masyarakat, alat kontrol sosial bagi eksekutif, yudikatif dan legislatif dibanyak negara. Peran media yang begitu masif mampu menciptakan satu perspektif tertentu yang membentuk pandangan masyarakat. "Apapun yang disajikan media dipastikan akan memberikan pengaruh," kata Ma'mun.

Terkait dengan pemilu di AS, kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang baru diharapkan menjadi angin segar bagi para migran di AS, khususnya umat muslim. Biden diharapkan  menghapus larangan umat muslim mendatangi AS yang ditetapkan Pemerintahan Donald Trump. "Kami tidak perlu privillage, kami hanya minta ruang yang sama agar bisa berkompetisi dengan lainnya. Baik dibidang politik, ekonomi dan lainnya dimana ada tantangan disitu selalu ada peluang, bangun sikap optimisme," kata Imam Shamsi.