Di Jogokariyan, Imam Besar New York: Hadapi Islamophobia dengan Surat Ashshaff

1.     PWMU.CO – Imam Besar Islamic Center of New York Amerika Serikat (AS) Muhammad Shamsi Ali mengajak umat Islam untuk menghadapi tantangan islamophobia di dunia ini dengan meneladani surat Ashshaff.

 

Hal itu disampaikan dalam acara Tabligh Akbar yang berlangsung di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (26/10/19).

“Phobia itu artinya takut tanpa alasan. Maka islamophobia itu ada karena orang-orang takut terhadap Islam yang hanya takut saja, tapi tidak tahu apa alasannya,” tuturnya.

Menurut alumni Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara, Makassar, itu islamophobia terjadi karena berbagai faktor. Ada faktor media, ketidaktahuan (kebodohan), juga karena faktor politik.

 

Sebagai contoh, imbuhnya, Kepala Kongres DPR AS Newt Gingrich adalah orang yang pertama kali memberikan izin bagi umat Islam Amerika untuk melaksanakan shalat Jumat di Capital Hill atau gedung DPR Amerika. Tapi begitu Newt Gingrich kampanye untuk mencalonkan diri menjadi presiden, dia berada di garda terdepan dan paling membenci syariah.

 

“Syariah dianggapnya sebagai ancaman. Itulah contoh politisi sekarang. Kerap kali menggunakan isu-isu agama sebagai kepentingan politik. Maka banyak orang takut terhadap agama ini karena segelintir orang yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik,” ujarnya.

Shamsi Ali yang juga merupakan Direktur Jamaica Muslim Center mengajak umat Islam belajar dari surat Ashshaf karena di dalamnya menggambarkan pertarungan antara kebenaran dan kebathilan. Dan yang pertama kali harus dilakukan umat Islam adalah menghadirkan tasbih dalam kehidupan.

 

“Tasbih berarti kalimat subhanallah. Tapi esensinya adalah menghadirkan kebesaran Allah dalam kehidupan. Hadirkan tasbih di dalam masjid, tapi bawalah ia ke rumah-ko kita. Hadirkan tasbih di masjid dan bawalah ia ke jalan-jalan. Hadirkan tasbih di masjid lalu bawalah ia ke pasar-pasar,” tandasnya.

 

“Dilema umat Islam sekarang adalah bertasbih seribu kali dan melantunkannya dengan kalimat indah di dalam masjid, namun menyimpannya rapi dalam lemari-lemari,” ujarnya miris. Kedua, umat Islam harus bercermin setiap saat. “Setiap hari pertanyakanlah dalam diri kita who am I? Siapakah aku? Ketika kita mengatakan diri sebagai Muslim, maka mari buktikan keislaman kita. Jika kita mampu membuktikan keislaman dengan perilaku terpuji, maka betapa banyak orang akan respek dan bahkan masuk islam. Bukan karena ceramah yang berapi-api atau karena teori dan konsep yang tinggi. Tapi karena cermin prilaku kita. Dakwah memerlukan ketauladanan. Jangan hanya diomongkan saja,” tegasnya.

 

Ketiga, menjaga persatuan dan kesatuan. Dalam Alquran surat Ashshaff ayat 4 memiliki arti, sesungguhnya Allah mencintai orang yang berjuang di jalanNya dengan shaf atau barisan yang kuat, teratur, solid. “Itu tandanya Allah mencintai persatuan dan kesatuan.” ujarnya.

Namun saat ini, sambungnya, ada satu hal paling krusial yang hilang di antara umat Islam, yakni rasa persatuan atau ukhuwah.

 

“Kita masih sibuk mempertentangkan masalah-masalah yang tidak terlalu esensial. Contohnya berpuasa menggunakan hisab atau rukyat, shalat Tarawih 8 atau 20 rakaat, shalat Subuh dengan atau tanpa qunut. Mudah-mudahan ini tidak lagi terjadi di Indonesia karena generasi muda sudah mulai tercerahkan dengan banyak informasi,” ucapnya penuh harap.

Putra kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu menyatakan persatuan dalam bahasa Inggris yakni unity bukan uniformity yang berarti persatuan bukan keseragamam.

 

“Jangan berharap umat Islam ini bisa diseragamkan. Tidak akan bisa. Karena Islam memberi ruang kepada umatnya untuk berijtihad. Siapa yang berijtihad dengan benar dapat dua, yang salah dapat satu pahala. Yang salah bukan disalahkan. Berbeda dengan kita yang selama ini berbeda sedikit langsung mudah mengkafirkan,” kata tokoh Muslim Indonesia yang telah 23 tahun tinggal di Kota New York tersebut.

Keempat, kuasailah media massa. Pendiri pondok pesantren pertama di Amerika yang dinamakan Pondok Pesantren Nusantara Madani itu menyatakan, media menjadi alat yang dahsyat untuk membangun persepsi dan siapa yang memenangkan persepsi akan memenangkan pertarungan.

 

“Sekarang ini pertarungan paling dahsyat bukan dengan bom, tapi dengan pembunuhan karakter. Betapa sekarang ini Islam dipersepsikan dengan buruk oleh banyak media. Islam dianggap kejam, anti HAM, tidak menghormati wanita dan seterusnya. Maka banyak orang takut terhadap islam karena persepsi buruk itu terus digaungkan. Maka saya berharap umat Islam harus menguasai media massa,” ujarnya.

 

“Saya bangga, tiga pemimpin dunia islam yakni Erdogan, Mahathir Mohamad, dan Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan akan bersatu melakukan perlawanan terhadap islamophobia dengan membuat media TV khusus. Kemudian saya pernah menulis di Twitter memimpikan Indonesia menjadi bagian di dalamnya, melihat negara kita mayoritas berpenduduk islam dan menjadi representasi muslim dunia,” katanya.

 

Kelima, bekerja keras atau jhad dan selalu optimis. Jihad harus dimakani secara benar. Yaitu bekerja keras dan sungguh-sungguh. Jihad itu konsep yang konstruktif, melakukan pembangunan bukan meruntuhkan. Senantiasa memakai kacamata optimisme bahwa harapan itu selalu ada. Islam ini pada akhirnya pasti akan jatuh. Bukan karena teori tapi itu adalah pesan dari Alquran, dan Allah yang akan menurunkan kemenangan.

 

“Selama ini di Amerika jika seseorang mendengar kata jihad selalu diidentikkan dengan kekerasan, bom, teroris. Padahal jihad itu sudah turun perintahnya kepada rasul jauh sebelum adanya perintah untuk perang dalam islam. Maka saya selalu katakan kepada teman non-Muslim di Amerika, ketika anda melihat kami maju dan berkembang janganlah kalian takut. Seharusnya kalian bangga. Karena kemajuan umat islam bukan hanya untuk kami, tapi untuk seluruh alam,” ceritanya.

Sebagai Muslim Indonesia, sambungnya, kita punya tanggung jawab yang besar. Karakter kebangsaan kita sudah sangat islami. Sopan santun, easy going, mudah tersenyum, gotong royong.

 

“Indonesia saat ini harus bangkit dan menjadi garda terdepan untuk menampilkan islam yang dirindukan dunia dan menjadi solusi bagi ambang kehancuran agama dunia. Agama islam ini untuk Timur dan Barat. Jangan egois mau masuk surga sendiri. Itulah muslim sejati, ingin mengajak semua orang masuk surga bersama-sama,” kata alumni Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan tersebut. (*)

 

Kontributor Nely Izzatul. Editor Mohammad Nurfatoni.

 

Sumber website : https://pwmu.co/115601/10/29/di-jogokariyan-imam-besar-new-york-hadapi-islamophobia-dengan-surat-ashshaff2/