Diskusi kebangsaan bersama Dr. Shamsi Ali dan PPI Austria

Bertempat di kediaman keluarga Wibowo di WIna, diskusi Dr. Shamsi Ali dengan para pelajar Indonesia di Austria yang diwakili oleh PPI Austria berjalan sangat interaktif dan dinamis. Dengan mengambil tema sentral optimasi peran pelajar Indonesia, menurut Dr. Shamsi Ali, ada setidaknya tiga tantangan terbesar yang perlu disambut oleh para pelajar yang tengah menggeluti ilmu di Austria.


Pertama, soal kecepatan. Kecepatan di sini maknanya ialah kecepatan global yang perlu disejajari guna mengambil manfaatnya. Kecepatan dalam banyak hal; informasi misalnya, membuat dunia semakin kecil. Kita sekarang hidup dalam era „small village“. Dunia tanpa barrier yang harus sesegera mungkin diadaptasi untuk menunaikan tugas sesuai dengan kapasitasnya, baik itu dalam kapasitas sebagai pelajar maupun profesional. 


Kedua, soal kerjasama. Dr. Shamsi Ali yang juga seorang imam – sebutan „ulama“ dan cendekia muslim dalam bahasa Inggris – kali ini menyinggung kerjasama antarpemeluk agama dalam kegiatan sehari-hari. Kerjasama ini menjadi penekanan manakala banyak pihak di era ini menyalahkan agama sebagai sumber perpecahan, konflik atau bahkan perang alih-alih sebagai sumber yang menyatukan. Kerjasama antarpenganut keyakinan yang berbeda akan menghasilkan kegiatan sosial kemasyarakatan yang sifatnya membangun dan positif. Dr. Shamsi Ali menyebutkan pengalaman pertamanya ketika baru pindah ke New York, di mana tetangga rumahnya yang keturunan Irlandia seakan-akan „memberikan“ contoh kerjasama antarpemeluk keyakinan ketika sang tetangga menyapu halaman depan apartemennya sekaligus halaman apartemen yang dihuni oleh Dr. Shamsi sekeluarga.  


Ketiga, soal kompetisi. Kita semua paham bahwa kita selalu berkompetisi dalam banyak hal di keseharian kita. Satu bangsa berkompetisi dengan bangsa lain. Dr. Shamsi Ali mengemukakan contoh ketika kompetisi dagang-lah yang membuat oleh-oleh jamaah Haji asal Indonesia yang dibeli di Pasang Seng, Makkah dulu ternyata made in China. Bagaimana sebuah negara komunis-atheis dapat membuat barang yang pada akhirnya dibeli oleh jamaah sebuah agama, ialah sebuah contoh kongkrit kompetisi dagang yang berhasil dimenangkan satu pihak. Artinya, spirit kompetisi ini hendaknya selalu diambil jika ingin berpacu dengan progres global dalam banyak bidang.   


Lantas apa hambatan dari kita ketika hendak mengatasi tantangan yang dipaparkan di atas?


Satu yang sangat ditekankan oleh Dr. Shamsi Ai ialah faktor kepercayaan diri atau self-confidence yang kurang. Berbicara tentang self-confidence, ada penekanan lebih ketika mencermati bahwa besar kecil faktor kepercayaan diri inilah yang turut menentukan maju atau tidaknya seseorang. Pelajar Indonesia yang tengah studi di luar negeri harus dapat mengasah self-confidence sehingga dapat mendudukkan dirinya sama level dengan komunitas negara lain. 


(Tim Penyusun : PCI Muhammadiyah Jerman Raya, Wilayah Austria)