Ini Kesan Saya tentang Shamsi Ali*

Ini kesan saya tentang Shamsi Ali, seorang doktor, imam, direktur Islamic Center terbesar di New York City, cendekia garda depan dan seorang pendakwah-mubaligh.


Saya mendengar nama beliau ketika membaca buku lawasnya Helvy Tiara Rosa, „Bukan di Negeri Dongeng“. 

Isinya cerita orang2 shaleh yang tersebar di pelosok Indonesia. Seingat saya, saya membaca buku tersebut tahun 2003 setelah istri membeli bukunya. Dari sekian bab cerita soal orang2 shaleh tersebut, satu yang menarik perhatian saya; Shamsi Ali. Di buku tersebut, baru tahu saya kaau ada tokoh muda muslim, ulama dan imam dari Indonesia yang begitu terpandang di New York sana. Itu di tahun 2003. Dan sampai sekarang, kiprah beliau sudah tertoreh di tinta sejarah dan semua tahu.


Jauh dari image saya tentang beliau, beliau orangnya santai. Ciri khas orang-orang aktifits pergerakan yang jauh dari birokrasi maupun penghormatan belebihan (apalagi beliau tumbuh di lingkungan Muhammadiyah yang jauh dari tradisi cium tangan). Pertemuan menjemput beliau di bandara saja hanya berjabat tangan meski saya akhrinya berinisatif memeluk beliau tanda selamat datang di Wina. Agak kaget ketika beliau menyarankan langsung ke hotel saja agar bisa cepat ke jadwal kegiatan selanjutnya. Tadinya saya sudah siap ingin mengajak beliau santai ngopi sejenak melepas penat penerbangan di sebuah kafe di bandara.

Saya bilang ke beliau bahwa jika saya ke US atau ke New York, yang terpikirkan hanya bersilaturahim ke Jamaican Islamic Center, New York tempat beliau menjadi direkturnya. Sayangnya, sampai detik ini, niat belum terealisasi. 


Ada kesempatan bersua di kala berhaji kemarin karena beliau juga tengah berhaji dan memberikan ceramah di pertemuan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) se-dunia di Makkah. Saya yang kebetulan menjadi salah satu pengurus PCIM Jerman Raya ingin sekali bertemu langsung. Sayang sekali lagi, jadwal prosesi umrah dan haji membuat saya urung menghadiri acara tersebut.


Alhamdulillah, jika niat bertemu tidak terlaksana, maka justru Pak Shamsi Ali yang berkunjung ke kediaman saya. Ya, Imam Shamsi Ali yang memiliki pengaruh luas dan salah satu tokoh agama paling berpengaruh di US itu datang ke rumah kami di Wina. Dalam kegiatan beliau Eurotrip berdakwah menyebarkan salam perdamaian, akhirnya tersempil satu jadwal untuk dapat berkunjung ke rumah kami. Dalam pertemuan dengan PPI Austria di rumah kami yang luar biasa interaktif tersebut, memang terlihat kualitas beliau sebagai pembawa pesan; to the point, berbobot dalam pesannya, penuh hikmah dan tajam. Betah rasanya 90 menit berdiskusi dengan beliau (20 menit pengantar diskusi dan 70 menit Q&A). 


Dua hari menemani beliau berkunjung ke pusat-pusat gerakan Islam dan akademisi muslim di Wina, Austria, jelas merupakan upaya mencari cipratan ilmu, pengetahuan, dan nasihat. Sepanjang menemani beliau di Wina, cipratan ilmu yang saya dapatkan sangat relevan dengan tantangan kami sekeluarga sebagai perantau muslim yang tinggal di Wina. Kadang kesempatan menemani beliau saya jadikan ajang eksplorasi pemikiran-pemikiran beliau soal integrasi muslim di negara barat, kesalahpahaman kita soal pengertian dan praktek interfaith dialog, persepsi Barat soal muslim dan Islam dan sebagainya. 


Ada satu yang diam-diam saya amati dari beliau. 

Langkahnya mantap. Posturnya tidak loyo karena ditopang oleh kebiasaan jogging hampir saban pagi. Ketika  di Wina, beliau sempat jogging pagi-pagi padahal Wina saat itu berangin kencang dan masih sekitar 5 derajat Celcius. 

Percaya dirinya berada di level pemimpin global. Bukan level regional apalagi lokal. Dan ini beralasan sekali jika melihat beliau dengan style luwesnya bergaul dengan pemimpin-pemimpin global. Tanpa kepercayaan diri yang tinggi, sulit rasanya mengimbangi eksistensi berdiri di antara pemimpin dunia. 


Soal kepercayaan diri ini pula yang disinggung di pertemuan dengan PPI Austria di rumah kami. Self-confidence tanpa rasa minder dengan bangsa lain yang harus diasah dan dipupuk agar dapat menyuarakan opini dan membela Islam. Self-confidence menghindari kita dari ikut-ikutan trend atau imitasi perilaku bangsa lain yang negatif. 


Selama bersama beliau, beliau juga produktif sekali menulis catatan di HPnya. Dan catatannya panjang, tidak hanya sekedar komentar di sosial media atau message group. Tiba-tiba saja saya dapat tulisan panjang dari beliau di WA grup yang saya ikuti. Padahal beliau tengah berada bersama saya dan tidak lepas dari berdiskusi tentang banyak hal. Jika kami tengah di jalan menggunakan dengan taxi Uber, sibuklah beliau dengan catatan, waktu apapun agaknya memang beliau manfaatkan betul untuk menulis.


Satu dari sekian banyak cipratan ilmu dan nasihat yang saya peroleh eksklusif dari beliau ialah perihal asas manfaat dari keberadaan kita di rantau. Manakah yang banyak memberikan manfaat, kita di rantau atau kita di kampung halaman? 


Jika keberadaan kita di rantau memang ternyata memberikan manfaat jauh lebih besar untuk dakwah islam, maka mungkin justru di sana lah tempat kita. Asas manfaat ini yang kelihatannya dipakai beliau untuk berfastabiqul khairat berlomba memberikan yang terbaik di mana pun ia menetap. Termasuk memberikan manfaat bagi komunitas dialog dan kerjasama antarpemeluk agama di US terutama. 


Akhirul kalam, muslim Indonesia sebagai role model untuk dapat dikenali di Austria agaknya menjadi pesan tersendiri dari beliau. 


Jika muslim Indonesia yang santun dapat berpotensi menjernihkan persepsi Barat tentang sosok Muslim, pertanyaannya sekarang ialah, bagaimana kita dapat memperkenalkan karakter muslim Indonesia ke Austria, Eropa atau dunia jika kita sendiri tidak banyak bergaul dan berintegrasi dengan warga setempat dan membuka diri bersinergi dengan komunitas lokal?


Wallahu a’lam. Wina, 20 Februari 2020.

*Rahmat Adhi Wibowo, Pengurus PCIM Jerman Rayah

ttps://www.facebook.com/rachmat.a.wibowo/posts/10221721044637630