Pandemi Terkendali, Ratusan Diaspora RI Hadiri Halalbihalal di AS

Pandemi COVID-19 di Amerika Serikat mulai terkendali. Sejumlah negara bagian memperlonggar protokol kesehatan. Aktivitas warga pun berangsur normal, termasuk halalbihalal yang menjadi tradisi lebaran di Tanah Air, kini dapat digelar kembali di negeri Paman Sam itu.


Program vaksinasi yang gencar dilakukan pemerintah adidaya ini membuahkan hasil. Amerika Serikat yang sempat berada di peringkat pertama dunia sebagai negara dengan tingkat penyebaran dan kematian akibat COVID-19, saat ini semakin pulih.


Apabila kondisi semakin membaik, aturan berbagai aktivitas direncanakan kembali normal sekitar awal Juli.

Saat ini, sejumlah negara bagian seperti Connecticut sudah mengizinkan warganya untuk mengadakan aktivitas berkumpul, tanpa dibatasi. Namun tetap disarankan memakai masker, terlebih bagi yang belum menerima vaksin.


Shamsi Ali, pendiri pondok pesantren Nur Inka Nusantara Mandari yang berada di Kota Moodus, Connecticut, berinisiatif menggelar halalbihalal.


Tradisi di Tanah Air dalam merayakan lebaran tersebut digelar di kompleks pondok pesantren seluas 7,4 hektar. Lahan tersebut dibelinya pada awal 2018 lalu.


Sekitar dua ratus orang diaspora Indonesia dari berbagai negara bagian, muslim maupun nonmuslim, bahkan beberapa di antaranya warga lokal Amerika, antusias menghadiri acara itu. Berbagai makanan dan jajanan khas lebaran pun dihidangkan.


Konjen RI di New York Arifi Saiman mengatakan, aturan protokol kesehatan tergantung kebijakan masing-masing negara bagian. Di wilayah kerja KJRI New York misalnya, negara bagian Connecticut sudah mengizinkan warganya untuk berkumpul 100 persen tanpa ada batasan.


Namn, di negara bagian New York masih dibatasi sekitar 70 persen dan akan dilakukan bertahap. Warga pun menyesuaikan aktivitasnya sehingga tradisi halalbihalal di New York masih sangat terbatas.


Rahmawati Alhaddad, diasprora Indonesia yang tinggal di Bronx, Kota New York, sangat senang dengan adanya halalbihalal tersebut, meski dia harus menyetir dua jam lebih dari rumahnya.


Dia puas bisa bersilaturahmi dan menikmati berbagai hidangan khas lebaran. Sebab, selama setahun ini dia merasa stres dan takut akibat pandemi.