Revolusi ala Erdogan

Tulisan ini bisa menjadi tambahan informasi bagi mereka yang mendukung bahkan memuja Erdogan. Boleh juga bagi mereka yang biasa mengeritiknya. Bahkan boleh jadi masukan bagi mereka yang membencinya. Kiranya dengan goresan ini dapat menambah wawasan, membuka mata, serta menyadari tentang Erdogan yang sesungguhnya.


Tak disangkal, Erdogan telah berhasil menggantikan sekularisme ala Ataturk yang anti, memusuhi, bahkan membasmi agama (Islam) dengan bentuk negara yang senyawa, mendukung bahkan mengembangkan agama. Hakikatnya Erdogan tidak merubah status Turki menjadi negara Islam atau negara agama (teokrasi). Tapi berhasil melakukan perubahan mendasar dan esensi dari sebuah negara.


Bukanlah sebuah kemustahilan jika suatu ketika Erdogan akan dijatuhkan oleh sebuah kudeta, seperti yang pernah gagal itu. Atau terkalahkan dalam sebuah pemilihan Presiden. Atau bahkan ketika kematian yang Allah telah tetapkan itu menjemputnya di kelak hari.


Akan tetapi diakui atau tidak, hari ini Erdogan telah menyelesaikan beberapa fase revolusi besarnya. Beliau telah berhasil meletakkan fondasi bagi pembentukan negara Turki yang baru. 


Apa yang dilakukan oleh Erdogan di Turki adalah Sesungguhnya adalah revolusi dari sudut pandang tujuan akhir sebuah perjuangan. Bukan pada sekedar wacana dan retorika. 


Revolusi seringkali identik dengan pemberontakan rakyat atau demonstrasi-demonstrasi yang memenuhi jalan-jalan. Bahkan terkadang harus berhadapan dengan kekuatan militer (bersenjata). Tentu dengan tujuan untuk menjatuhkan pemerintahan dan menggantinya dengan pemerintahan baru, yang berbeda secara politik, bentuk masyarakat dan sistim ekonominya.


Dan revolusi seperti itu akan melalui masa-masa  sulit. Menimbulkan situasi goncangan terhadap sendi-sendi bernegara, bahkan seringkali melemahkan negara itu sendiri. Tidak jarang juga menimbulkan disintegrasi bangsa, serta membawa keoada kemunduran bahkan kehancuran dari segala capaian selama ini.


Akan tetapi Erdogan telah membuktikan jika revolusi itu tidak harus melalui semua jalan-jalan kelam itu. Tanpa melalui sebuah proses operasi yang terlalu berbahaya. Yang jika saja gagal akan merusak dan menghancurkan bangsa dan negara yang tadinya diharapkan menjadi kuat dan maju.


Turki telah mengalami perubahan dari sebuah negara yang lemah, goyah dan hampir ambruk secara ekonomi. Bahkan sebuah negara yang berada di ambang kebangkrutannya. Di bawah Erdogan, Turki menjadi negara kuat, berdiri di tengah bangsa-bangsa maju lainnya. Dan semua ini bukan karena  ladang gas atau minyak. Atau karena kekayaan pertambangan atau sumber alam lainnya. 


Kemajuan dan kekuatan Turki justeru pada kemajuan dan kebangkitan ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan ekonomi secara sungguh-sungguh. Dan pada akhirnya Turki diakui sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. 


Hal ini sekaligus menjadikan Turki berada pada posisi kesembilan dari kekuatan militer dunia. Yang pada akhirnya menjadikan NATO setengah terpaksa menerima Turki sebagai anggotanya. 


Salah satu kecemerlangan Erdogan dalam politiknya adalah keberhasilannya mengendalikan kekuatan militer yang selama ini justeru menjadi benteng sekularisme Ataturk. Setelah berhasil mengendalikan para petinggi militer, beliau menjadi Pemimpin sejati negara Turki.


Selama ini Pemimpin militer Turki sesungguhnya adalah Pemimpin negara itu sendiri. Erdogan berhasil melucuti keterlibatan dan kekuasaan politik militer secara menyeluruh. Dan itu dilakukan secara bertahap dan cantik. 


Dengan pendekatan yang persuasif dan halus berhasil menggiring tentara kembali ke baraknya. Merubah fungsi militer dari fungsi kekuasaan politik kepada fungsi pengamanan. Dan dari militer yang mencengkram secara politik menjadi militer yang tunduk pada Pemimpin negara yang terpilih sebagai Panglima tertinggi. 


Apa yang dilakukan oleh Erdogan itu adalah perubahan revolusioner, mengingat bahwa selama ini militer Turki begitu kuat dan berpengaruh, bahkan menentukan bentuk dan arah kebijakan negara.  


Sekali lagi, Erdogan telah meruntuhkan Republik Ataturk secara menyeluruh, tanpa menghancurkan patung-patung Ataturk. Tanpa retorika dan emosi yang meluap untuk menggusur kekuasaan. Tetapi Erdogan menahan angin dan air mengalir kepada sekularisme Ataturk, sehingga mengalami kemusnahan, setelah tercabut satu persatu dari akar negara dan bangsa.


Terjadilah perubahan itu dari sebuah bentuk negara yang diktator atas nama Demokrasi, tanpa menghargai keragaman, dan dengan kekuasaan yang menekan kebebasan. Dengan perubahan itu semuanya tinggal menjadi catatan sejarah, dan masa lalu yang diingat oleh orang-orang Turki secara menyeluruh. 


Erdogan berhasil merubah negara Turki dari negara sekuler ala Ataturk, yang antithesis bahkan memusuhi agama, keoada negara sekuler yang senyawa dengannya. Sehingga hukum-hukum negara tetap satu arah dengan ajaran agama. 


Erdogan tidak memutuskan untuk mendirikan dan memimpin negara Turki di atas dasar dan hukum agama (Islam). Tapi dia berhasil menghapuskan banyak bentuk aturan yang semena-mena, di mana Islam telah menjadi korban di bawah pemerintahan sekuler Ataturk. Dan semua itu merendahkan dan menghinakan agama secara nyata. 


Erdogan membalik semua itu. Dimulai dari masalah-masalah akidah dan keimanan, yang berujung pada terbentuknya karakter masyarakat yang solid dalam keislaman. Dan tentunya melalui ketaatan ubudiyah dan syiar-syiar agama lainnya.


Erdogan paham bahwa Islam lebih besar dari sekedar sebuah pemerintahan. Lebih tinggi dari sekedar perundang-undangan yang kaku. Tapi memerlukan sistim pemerintahan yang adil, yang tidak melakukan tekanan dan diskriminasi bahkan kepada lawannya.


Maka ditata aturan-aturan itu dengan penuh kehati-hatian. Dilonggarkan segala aturan yang tadinya secara ketat menekan praktek-praktek keagamaan tanpa merubah pada tataran formalitasnya. 


Bahkan rumah-rumah pelacuran tidak sekaligus ditutup. Tapi pembangunan sekolah-sekolah Islam dipermudah dan difasilitasi. 


Para ateis tidak juga dikriminalkan. Tapi mempermudah bagi berdirinya sekolah-sekolah penghafal Al-Quran (Tahfidz). Lalu pintu-pintu dibuka lebar dalam segala bentuk keilmuan Islam. 


Erdogan tidak memaksa wanita Turki memakai hijab. Tapi memberikan izin kepada para wanita yang berhijab untuk masuk sekolah dan universitas-universitas. 


Sungguh Erdogan telah berhasil membebaskan agama (Islam) dari penjara sekularisme tanpa memenjarakan sekularisme itu sendiri. Menjadikan nilai-nilai dan prinsip, keyakinan dan pemikiran Islam menjadi senyawa dengan masyarakat. 


Sehingga pada akhirnya semangat Islam, prinsip-prinsip dan nilai-nilainya mengalir kembali dalam pori-pori negara dan bangsa Turki. 


Dan inilah sesungguhnya esensi sebuah revolusi dan perubahan. Dan semua itu terjadi tanpa setitik darah yang mengalir. 


Bravo Erdogan! 


Udara NYC-Dubai, 15 Oktober 2020 


Shamsi Ali

* Imam/Direktur Jamaica Muslim Center 

* Presiden Nusantara Foundation