Khotirah subuh ini!

Khotirah subuh ini! 


Saudaraku, 

Memasuki masa-masa “silang di pendapat” tentang banyak hal dalam agama ini, saya ingatkan lagi sebuah ungkapan dari seorang Ulama: “kullamaa ittsa’al ilmu qallal inkaar” (setiap kali ilmu menjadi luas (tambah) pengingkaran akan juga berkurang). 


Maknanya: salah satu cara menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat dalam agama sehingga tidak mengantar kepada mengingkari adanya pendapat lain di sekitar kita adalah dengan mencari dan mencari lagi. Ilmu tiada batasnya. Yang membatasi kemudian adalah “firman Allah” dan “Sabda RasulNya”. 


Selama itu “ra’yii” (my opinion) jangan dinaikkan ke level suci. Karena di situlah rentang terjadi “inkaar” (pengingkaran) eksistensi pendapat orang lain. 


Yang runyam bahkan berbahaya adalah ketika begitu cepat menyalahkan, bahkan mengkafirkan orang lain hanya karena beda pendapat. 


Akibatnya remuklah “wihdah” (kesatuan) Umat dan “ukhuwah” karena tendensi egoistic sebagai akibat dari “dhiiq al-ilmu” (sempitnya keilmuan) itu. 


Salah satu hal yang selalu saya usulkan ke Umat ini, khususnya para Ulamanya, agar sering-seringlah melakukan piknik. Bukan sekedar piknik fisikal. Tapi juga piknik pemikiran. Biar wawasan semakin “broaden” (meluas) dan bisa membangun tidak saja kesadaran adanya “aaraa” (Opini-Opini) lain di sekitar kita. Tapi justeru mengapresiasi adanya “ikhtilaf aaraa” (perbedaan pendapat) itu sendiri. 


Rasul SAW, bahkan di masa hidupnya sekalipun mendorong Umat ini untuk berpikir (ijtihad). Maka lahirlah “ikhktilaf aaraa (perbedaan-perbedaan pendapat) di kalangan para sahabat. Justeru itu di saat baginda masih hidup di tengah-tengah mereka. 


Ingat Saudaraku, “wihdah dan ukhuwah” itu jauh lebih mendasar dan urgen ketimbang kebenaran opini yang anda akui. 


Dan semoga Allah menjaga Umat ini. 


(Shamsi Ali-New York City, USA).