Memahami “Itqan” dalam beramal

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba ketika beramal dia melakukannya secara itqan”. 


Hadits ini menjelaskan banyak hal. Tapi salah satunya yang terpenting adalah menepis anggapan sebagian orang jika Islam mengajarkan ketidak disiplinan, kemalasan, ketidak teraturan, kesemrawutan, dan ragam tuduhan lainnya ketika bersentuhan dengan kerja dan karya.


Pada hadits itu Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang-orang beriman itu jika melakukan sesuatu, beramal, bekerja, beramal atau melakukan karya maka dia akan melakukannya secara “itqan”. 


Orang yang melakukan sesuatu secara itqan dikenal dalam bahasa Arab dengan kata “mutqin”. Kata ini sendiri berasal dari kata “atqana, yutqinu, itqaan wa mutqinun”. 


Saya mencoba mencari kata yang tepat untuk menterjemahkan kata itqan atau  mutqin ini. Tapi agak berat untuk menemukan dan memastikan arti yang pas dan menyeluruh dari kata ini. Pastinya kata ini mengandung makna “al-jiddiyah” (kesungguhan), keteraturan (tidak semrawut/sembarangan), kedisiplinan, dan tentunya profesionalitas (tidak asal-asalan). 


Namun jika kita selami lebih jauh dari makna ini, akan ditemukan beberapa hal yang sangat relevan dalam acuan Islam ketika bersentuhan dengan kerja, karya dan inovasi. Karena pastinya Islam memang adalah agama yang sangat komprehensif dan menyeluruh dalam menuntun Umat dalam menjalani hidupnya. Termasuk di dalamnya dalam melakukan kerja, amal, karya dan inovasi. 


Di antara hal-hal yang harus dipenuhi untuk sebuah amal/kerja atau karya itu “mutqin” (itqan) adalah sebagai berikut: 


Pertama, pentingnya menata hati. Menata hati itu yang dikenal dalam defenisi agama dengan niat yang lurus atau benar. Niat yang lurus tentunya banyak berkaitan dengan “kebersihan” (tazkiyah) hati itu sendiri. 


Hati dan niat menjadi sangat relevan dalam kaitannya dengan amalan mutqin karena memang hati itu adalah “komando Sentra” dari seluruh amalan yang terjadi. Kata Rasulullah SAW: “pada tubuh manusia itu ada segumpal darah yang jika baik, baiklah seluruh anggota tubuh. Tapi kalau segumpal darah itu rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh manusia. Itulah hati” (hadits). 


Situasi hati inilah yang kemudian menentukan arahannya yang disebut niat. Kalau hati kotor maka niat akan menjadi terkontaminasi dengan tujuan-tujuan yang salah. Kebersihan hati menjadi jaminan kelurusan niat dalam beramal atau berkarya. 


Niat menjadi penting dalam beramal karena memang niat itulah yang akan menjadi bentuk sekaligus nilai dari sebuah kerja/amal atau karya seseorang. Rasulullah menyampaikan: “Sesungguhnya semua amal itu ditentukan (bentuk/nilainya) oleh niat” (hadits). 


Kedua, amal atau karya itu dilakukan berdasarkan ilmu. Tak diragukan lagi bahwa ilmu dalam Islam memiliki posisi yang sangat menentukan. Bahwa sebuah amalan atau karya tanpa ilmu pada dirinya adalah kebodohan. 


Rasulullah kemudian menggariskan: “barangsiapa yang mau berhasil dalam dunianya hendaklah berilmu. Siapa yang mau berhasil di akhiratnya hendaklah dengan ilmu. Dan siapa yang ingin berhasil pada keduanya hendaklah dengan ilmu”. 


Begitu banyak ayat Al-Quran maupun hadits Rasulullah yang menekankan urgensi ilmu dalam kehidupan. Sampai-sampai kata terbanyak kedua dalam Al-Quran setelah kata “Allah” adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu, pikiran dan akal manusia. Bahkan Al-Quran menjamin meninggikan derajat seorang Mukmin yang berilmu. 


Ketiga, pentingnya perencanaan yang matang dan jitu. Jika kita melihat amalan-amalan Islam semuanya berkaitan dengan waktu tertentu. Sholat ditentukan waktunya. Puasa itu di bulan Ramadan. Zakat ada haul atau waktu dalam setahun. Dan Haji juga pada bulan-bulan yang ditentukan.


Keterikatan amalan-amalan itu dengan waktu menunjukkan bahwa orang beriman itu perlu merencanakan. Bukan tiba masa tiba akal. Sehingga pada pelaksanaannya tidak terarah (semrawut) dan sering tidak punya arah atau orientasi yang jelas. 


Al-Quran menegaskan: “hendaklah setiap orang apa yang akan dilakukan untuk hari esoknya”. 


Tentu hari esok yang dimaksud pada ayat ini adalah akhirat. Bahwa untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan ukhrawi kita diperlukan perencanaan. Tapi sebelum akhirat (setelah kematian) hendaknya pula semua yang akan kita lakukan di esok hari dalam kehidupan saat ini perlu direncanakan. 


Keempat, pentingnya implementasi dengan kerja sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam kerja ini yang disebut dalam bahasa agama dengan “jihad”. Karenanya tanpa jihad tak akan ada yang bisa dihasilkan. 


Kalau kita melihat Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah SAW akan didapati bahwa penekanan dari sebuah usaha duniawi itu ada pada implementasi atau amal. Allah misalnya menegaskan: “dan katakan kepada mereka bekerjalah. Sungguh Allah akan melihat amal kalian, dan RasulNya serta orang-orang yang beriman” (Al-Quran). 


Karenanya itqan dalam beramal itu berkarakter Kesungguhan. Ada ruh jihad yang menjadi mesin penggerak. Sehingga keinginan untuk berhasil tidak terhenti pada tingkatan semangat. Apalagi hanya sebuah angan-angan. Rasulullah mengingatkan hal itu: “iman itu bukan angan-angan dan khayalan. Tapi apa yang tertanam kuat dalam hatinya dan dibuktikan dengan amal”. 


Kelima, bahwa kerja atau karya yang mutqin (itqan) itu bersifat “sustainable” (berkesinambungan). Dalam bahasa agama sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan itu disebut “istiqamah” atau konsistensi. 


Berbagai ayat maupun hadits menjelaskan urgensi “istiqamah” ini. Bahkan ayat yang paling populer adalah “ihdinas shirotal mustaqiim”. Salah satu makna dari ayat ini agar dalam beribadah kita tidak bersifat “panas-panas tahi ayam”. 


Ada sebuah hadits Rasul yang terkenal adalah “Sesungguhnya Allah mencintai amalan Yang berkesinambungan walaupun hanya sedikit”. Artinya konsisten dalam melakukan amalan itu yang terbaik  walaupun hanya sedikit. 


Keenam, sebuah amalan atau kerja dan inovasi dalam Islam itu harus berorientasi hasil (result oriented). Jadi bukan sekedar yang penting kerja. Tapi memang ada tujuan atau orientasi hasil yang jelas. Masalah wujud atau bentuk dari hasilnya itu hak Allah untuk menentukan. Tapi ketika melakukan sesuatu harus ada target atau tujuan hasil yang jelas. 


Tentu hasil (result) itu tidak selalu sesuai keinginan dan batasan kita. Tapi pastinya semua amal atau karya ada hasilnya. Itulah yang ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran: “maka barangsiapa yang melakukan amalan kebaikan walau sekecil atom niscaya akan dilihatnya”.


Kata “dilihatnya” itu menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan itu harus berorientasi hasil. Walau tentunya tidak harus dalam wujud duniawi. Tapi sekali

lagi, pasti ada hasilnya. Kalau tidak dalam dunia ini, akan terwujud di akhirat nanti. 


Ketujuh, mutqin atau itqan dalam beramal/kerja dalam perspektif Islam tidak pernah berkarakter superman. Tapi selalu punya wawasan samawi. Bahwa apapun dan bagaimanapun hebatnya seseorang dalam beramal dan berkarya hanya Allah yang menentukan hasil akhirnya. 


Ada tiga hal yang terangkum pada sisi ini. Satu, sungguh-sunggu berdoa kepada Allah. Dua, tawakkal penuh dengan menyerahkan kepada Pemilik langit dan bumi. Tiga, optimis bahwa sebuah niat dan kerja yang baik pasti berakhir manis. 


Itulah kira-kira makna “itqan” dalam beramal menurut pandangan Islam. Dengan demikian kata “an yutqina” pada hadits tadi ketika diterjemahkan ke dalam bahasa lain tidak akan termaknai secara menyeluruh. Kata sungguh-sungguh, kerja keras, ahli, bahkan profesional hanya menyentuh bagian kecil dari kata “itqan”. 


Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam itu lebih besar dan luas ketimbang konsep-konsep manusia. Bahwa manusia ketika mengajukan sebuah konsep maka konsep itu mewakili keterbatasan manusia itu sendiri. 


Berbeda dengan konsep-konsep Islam yang memang pastinya jadi bagian dari Inspirasi samawi (wahyu) dan pastinya memiliki karakter kesempurnaan yang dahsyat. 


Proud to be a Muslim!  


New York, 1 September 2021 


Imam Shamsi Ali

* Presiden Nusantara Foundation