Menyikapi Bom Bunuh Diri Makassar

Berhubung banyak pesan yang masuk, mempertanyakan sikap saya terhadap bom bunuh diri di Makassar, bersama ini saya sampaikan:


“Saya menyampaikan secara terbuka bahwa saya mengutuk bom bunuh diri yang terjadi di kota saya, Kota Makassar. Siapapun pelaku dan tergetnya, apapun alasan dan motifnya, bom bunuh diri itu terkutuk. Apalagi dilakukan di Nisf Sya’ban, menjelang Ramadan, dengan menarget rumah ibadah, dan dengan tujuan menghilangkan nyawa rakyat sipil. 


Jangankan di sebuah tempat dan waktu yang damai. Di saat peperangan saja, semua rumah ibadah, gereja, sinagog, kuil maupun pura, mendapat perlindungan dari upaya pengrusakan. Seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran (lihat S. Al-Hajj: 40). 


Perlakukan seperti ini jelas merupakan pengruskaan. Pengrusakan kepada perdamaian, pengrusakan kepada dunia, merusak hubungan antar manusia, bahkan merusak kehidupan manusia itu sendiri. “Dan Allah membenci mereka yang melakukan kerusakan” (lihat Al-Qashas: 77). 


Karenanya sekali lagi, siapa pun pelakunya, siapapun tergetnya, dan apapun motifnya, saya kutuk kejadian bom bunuh diri di Kota Anging Mammiri’.


Sekaligus mengajak semua pihak untuk menahan diri dari “finger pointing” (melempar tuduhan) kepada agama dan kelompok agama tertentu. Karena sesungguhnya kejadian-kejadian terakhir di dunia kita, termasuk di Amerika, membuka mata dunia bahwa kekerasan dan terorisme bisa dilakukan oleh dan menarget siapa saja. 


Terorisme tidak mengenal batas-batas agama. Karena sesungguhnya terorisme memang tidak mengenal agama, bahkan tidak beragama. 


Saya juga mengajak kita semua untuk menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama kemanusiaan kita. Sekaligus bersama-sama memerangi semua “akar” kekerasan dan terorisme, termasuk ketidak adilan yang masih mendominasi dunia kita. 


Semoga Allah menjaga kita semua. Amin! 


Imam Shamsi Ali 

Presiden Nusantara Foundation 

Imam di kota New York USA