Positif saja!

Positif saja! 

Imam Shamsi Ali* 


Ada sesuatu yang “kurang pas” bahkan keliru dalam upaya memperbaiki lingkungan sosial sekitar kita. Upaya Yang saya maksud adalah keinginan, bahkan yang tulus sekalipun, untuk memperbaiki manusia di sekitar kita. Dan ini terjadi kerap tanpa disadari. Biasanya karena keinginan keras (azam) sebagian untuk segera terwujudnya suasana sempurna, sesuai idealisme yang diyakini. 


Di sinilah pentingnya menyadari bahwa upaya memperbaiki apa yang kita anggap tidak baik, ada beberapa hal yang harusnya dihadirkan di benak kita. 


Pertama, dalam hidup ini segala sesuatu memiliki prosesnya masing-masing. Tidak ada yang secara tiba-tiba sempurna dan ideal seperti yang diharapkan. 


Ketika Allah memerintahkan hambaNya untuk sempurna dalam beragama, Allah telah memanggil mereka dengan panggilan agung: “Aamaanuu” (mereka yang telah beriman). Bukan karena ketidak sempurnaan itu lalu dinafikan keimanan mereka. 


Allah berfirman: “Wahai orang-orang Yang beriman, Masuklah ke dalam agama Islam secara sempurna”. Pastinya yang diperuntah masuk belum masuk secara sempurna. Tapi Allah telah memanggil mereka dengan “aamanuu”. 


Berbeda dengan sebagian orang Yang justeru mencari di mana ada kekurangan untuk dijadikan alasan untuk menafikan atau minimal mengecilkan iman orang lain. 


Beberapa kali saya kembali ke Indonesia dan mendengar keritikan keras kepada saudari-saudari kita mulai berjilbab (menutup kepala) tapi masih memakai pakaian Yang kurang layaknya sebagai pemakai jilbab. Baju yang agak ketat misalnya. 


Saya paham keingin sempurnaan itu. Tapi saya sayangkan jika saudari-saudari kita itu menjadi target kritikan, bahkan kerap dengan cara yang kasar, hanya Karena belum sempurna (ideal) dalam melakukan ajaran agamanya. 


Bukankah semua berproses? Dan tidakkah lebih bijak jika sebaliknya, justeru diapresiasi apa yang telah dia capai (lakukan), walau tidak sempurna? 


Kedua, dalam Al-Quran ada dua metode menyadarkan orang. Yaitu “tabsyiir” (memberikan kabar gembira) dan “tandziir” (memberikan ancaman). Kedua metode ini imbang tapi tidak sejajar. Imbang dalam arti saling melengkapi. Tapi tidak sejajar dalam artian bahwa menyampaikan “tabsyiir” jauh berulang kali disebut ketimnang “tandziir”. 


Semua itu merupakan bagian dari realisasi  “Rahmah” dalam Islam. Rahmah Allah, Rahmah Rasul dan Rahmah Islam itu sendiri sebagai ajaran. “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus kamu kecuali sebagai rahmah” tidak berarti “membawa rahmah. Tapi pada diri pembawa (Rasul) itu sendiri adalah rahmah, dengan karakternya yang Rahmah. 


Kerenanya menekankan kenegatifan dalam menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran adalah “self contradictory”, bahkan bersifat paradoks pada dirinya.


Ketiga, dalam upaya memperbaiki ada masa-masa untuk kita meletakkan diri kita pada posisi mereka. Kita harus menyelami mentalitas dan lingkungan di mana mereka terkurung. 


Saya seringkali dikritik oleh teman-teman karena saya hadir dan menikahkan pemuda-pemudi Muslim-Muslimah di tengah-tengah pergaulan yang jauh dari idealisme lingkungan Islami. Pakaian wanita yang kurang sopan, ada musik dan dance, dan lain-lain. 


Banyak yang tidak paham bahwa dengan menghadirkan saya dan menikahkan mereka secara Islam sudah sebuah hasil yang luar biasa. Mentalitas dan lingkungan mereka mengatakan: apa bedanya dengan kehadiran seorang Imam dengan caranya dan menikah di kantor catatan sipil dengan seorang Hakim? 


Artinya dalam pandangan sebagian generasi muda itu, mungkin tidak diucapkan, mengatakan bahwa nikah secara agama atau sekedar nikah secara sipil sama saja. Toh yang menentukan kemudian adakah bagaimana kedua mampelai mampu membangun rumah tangga yang baik. 


Maka memahami cara pandang dan kecenderungan mentalitàs serta keadaan lingkungan yang mengungkung mereka menjadikan kita harusnya justeru mengapresiasi kenyataan bahwa mereka sudah menerima urgensi ajaran agama dan menghormati hukum Islam dalam pernikahan. 


Bukan pakaiannya, bukan musikmya atau bagaimana mereka manata ruangan pernikahan yang menjadi fokus dalam penilaian. 


Keempat, yang paling berbahaya adalah ketika Melihat orang lain kurang dari diri kita. Merasa kita lebih Islami, bahkan sempurna dalam berislam. Sementara orang lain yang akan selalu nampak adalah kekurangan dan kesalahannya.


Saya pernah mengirim foto sebuah acara Islam di kota New York. Dalam foto itu ada beberapa hadirin dari kalangan wanita yang tidak berjilbab. Justeru Yang saya terima adalah “kok acara Islam tapi pakaiannya tidak Islami”. 


Mentalitas seperti ini berbahaya. Karena “tend to jump for judgment” (cenderung melompat menghakimi) tanpa pertimbangan positif. Bahwa siapapun wanita itu, Muslim atau tidak, walau belum memakai pakaian sopan, harusnya dihargai karena telah hadir dalam acara Islam itu. 


Contoh lain adalah ketika saya mengirimlan sebuah video perkawinan antara pasangan Bangladesh dan muallaf blasteran China dan Iran. Karena sang suami adalah mantan non Muslim maka yang banyak hadir dalam pernikahan itu mayoritasnya adakah teman-teman non Muslimnya. 


Sebagian mereka yang menerima video itu justeru pertama kali menilai pakaian. Kenapa banyak Yang berpakaian terbuka? Kenapa mampelai wanita tidak pakai jilbab? Bahkan apakah kedua mampelai ini Muslim? 


Sebuah pertanyaan yang tidak logis. Karena bagaimana mungkin saya akan menikahkan pasangan yang tidak Muslim secara Islam? Tapi di situlah sebuah realita akan mentalitas manusia Yang serba mendahulukan mata negatif dalam menilai orang lain. 


Sejujurnya saya agak gerah dengan sikap Muslim seperti itu. Karena sikap seperti itu tidak saja menjadi bumerang dalam kerja-kerja dakwah yang kita lakukan. Justeru menjadi pemicu keretakan relasi di antara sesama. 


Akhirnya saya ingin kembali mengingatkan bagian dari sebuah catatan yang pernah saya baca di sebuah media sosial. Semoga dengan ini kita bisa merubah sikap dan cara pandang kita kepada orang. 


Karakter positif itu adalah.....: 


▫Membina, bukan menghina.


▫Mendidik, bukan 'membidik'


▫Mengobati, bukan melukai.


▫Mengukuhkan bukan meruntuhkan.


▫Menguatkan, bukan melemahkan.


▫Mengajak, bukan mengejek.


▫Menyejukkan, bukan memojokkan.


▫Mengajar, bukan menghajar.


▫Menasehati, bukan mencaci. 


▫Merangkul, bukan memukul.


▫Solusi, bukan intimidasi.


▫Khidmat, bukan mengumpat.


Dan positif itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan. Menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari-cari aib dan membeberkannya.


Pandangan positif itu menerima perbedaan, bukan memonopoli kebenaran. Dan juga hidup positif itu adalah berpikir manis, bukan memvonis.


Benarlah kata seorang ulama besar Islam: nahnu du’aatun lasnaa qudhootun. Kita adalah para dai/pengajak. Kami bukan qadhi (yang menghakimi). 


New York, 24 September 2019 


* Presiden Nusantara Foundation 


Friends, do not forget to have & read our book: Menapak Jalan Dakwah di Bumi Barat. You can get it from Gramedia stores throughout the country. Get yours!